Wisata Menelusuri Sejarah Hitam Berlin

Di Berlin, setidak-nya pernah terjadi dua tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah modern. Kejahatan Hitler dengan Nasionalisme Sosialis (Nazi) yang membunuh jutaan bangsa Yahudi dan komunisme dengan Tembok Berlin yang memotong kota Berlin menjadi dua bagian. Dan masyarakat Jerman banyak belajar dari-nya. Agar tidak dilupakan, mereka, dan juga Negara-negara Eropa Barat lain-nya, membuat banyak sekali museum. Hanya dengan melihat bekas-nya pun orang Jerman tetap dapat mengingat-nya.

Pertama, di Postdamer Platz, sebuah tempat yang kini menjadi pusat perbelanjaan modern. Tempat ini, dan Alexander Platz, dulu-nya adalah bagian dari Berlin Timur, dan sengaja di bangun agar secara ekonomi bisa sejajar dengan tetangga-nya di Barat. Tercermin geliat ekonomi yang penuh semangat dari para penduduk-nya. Mal yang supermodern, berbagai bioskop, restoran dan plaza banyak berdiri.

Tak jauh dari sana, dekat dengan stasiun kereta, tampak sisa-sisa dinding penuh coretan warna-warni, dahulu masyarakat dan intelektual Berlin Barat memrotes tetangga-nya dengan cara membuat grafiti jalanan, dan beberapa informasi seputar-nya. Memang terlihat dari gambar diatas Tembok Berlin adalah galeri lukisan terpanjang di dunia. Dari stasiun Ostbahnhof hingga Oberbaumbrucke pada 28 September 1990, 118 seniman dari 21 negara melukis dinding tersebut yang panjang-nya 1.216 meter. Karena itu, wajar jika serpihan-serpihan dinding dan kaos suvenir-nya penuh dengan corak warna grafiti. Harga untuk serpihan Tembok Berlin tersebut pun setinggi langit.

Selanjut-nya, tak Jauh dari sana, ada situs bersejarah lain-nya. Hanya dengan berjalan kaki sekitar 10 menit, kita dapat sampai pada Memorial to the Murdered Jews of Europe. Inilah museum dan monumen untuk mengenang bangsa Yahudi yang jadi korban Perang Dunia di masa Hitler berkuasa. Monumen itu terdiri dari beton-beton panjang mirip batu nisan, menjulang ke atas seluas 19 ribu meter persegi. Berada disana, kita akan merasa seperti sedang ziarah ke kompleks pemakaman, tempat yang sunyi dan suasana-nya dingin.

Untuk dapat masuk kedalam museum kita harus antri untuk pemeriksaan keamanan. Tidak dikenakan biaya untuk tiket masuk pula. Terdapat lebih dari 5 bahasa pengantar yang disediakan dalam brosur dan alat studio. Didalam banyak bukti kekejaman perang. Diantara-nya ada yang dalam bentuk tulisan tangan (bahkan ada yang menulis pada halaman-halaman novel). Ada juga daftar nama korban, dan masih banyak lagi. Menurut info yang didapat, banyak juga loh yang protes sewaktu museum ini dibuka. Alasan-nya, hanya disebut-kan korban bangsa Yahudi saja, sedang-kan banyak juga korban dari Roma, Saksi Jehovah, Komunis, dan tawanan politik.

Lalu kita menuju Bradenburg Gate, hanya sekitar 20 meter saja tempat ini dapat dicapai. Disini, dulu-nya, dinding berdiri tegak, memisahkan satu kota satu bangsa. Tembok itu kini sudah tak berbekas lagi, hanya terdapat keterangan saja.  Bangunan kuno itulah simbol dari kota itu, simbol terbelah-nya Berlin.

.

.

.

Satu tempat lagi yang tak boleh dilewat-kan, yaitu Check-point Charlie. Untuk dapat ke sana salah satu-nya kita dapat menggunakan U-Bahn, kereta bawah tanah yang cepat, lancar, dan informatif alias kecil kemungkinan-nya kita bisa tersesat. Berlokasi di Friedricstrasse (jalanan paling legendaris disana), yang terkenal dengan peringatan-nya “Anda Kini Meninggal-kan Sektor Amerika”. Tempat itu satu-satu-nya jalan keluar masuk antara timur dan barat bagi para pejabat, orang asing, atau siapa saja. Tentu saja , pengawasan dan pengawalan pos pasukan sekutu itu sangat ketat. Disana tank-tank dari AS dan Uni Soviet saling mengarah dan siap menyemburkan peluru, jika perlu. Dan korban pun berjatuhan.

Berbagai tokoh hadir. John F. Kennedy, presiden AS saat itu, berpidato dan kini menjadi abadi: “Ich bin Berliner!”, saya orang Berlin! Dan Ronald Reagan-lah yang dengan lantang, di tempat yang sama sambil menghadap wilayah Uni Soviet, berkata “Tolong, buka tembok ini!”.

Saat ini replika pos jaga itu masih ada. Dan museum-nya terletak persis disamping-nya. Museum itu didiri-kan beberapa saat sebelum dinding dibangun. Banyak cerita dan artifak tentang kekejian pemerintahan Stalin dan, yang paling menarik, berbagai metode untuk menyeberang dinding (lewat mobil, bersembunyi di kulkas dan perahu, sampai ada yang menggunakan balon udara!).

Kedua sejarah itu begitu menjadi bagian dari kota itu (Berlin). Bahkan di Film Haus, museum perfilm-an Jerman, diceritakan tentang dua babak gelap itu. Termasuk penolakan ratu Hollywood Marlene Dietrich untuk kembali ke Jerman, dia berkata “Saya tidak benci Jerman, saya benci Nazi!”

Dua kejahatan kemanusiaan terbesar pernah hadir di sana. Kini, Berlin menjadi tempat yang pas untuk berefleksi.

.

Referensi: ESQ Magazine | No. 07 | Th. IV | Juni 2008

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: